MASALAH KESEHATAN KOMUNITAS DI INDONESIA

Dewasa ini di Indonesia terdapat berbagai masalah kesehatan penduduk yang masih perlu mendapat perhatian secara sungguh – sungguh dari semua pihak. Permasalahan tersebut harus ditangani secara komprehensif, terencana dan mendasar karena dampaknya akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia, serta pembiayaan dan perencanaan kesehatan di masa mendatang.

 

Perubahan masalah kesehatan ditandai dengan terjadinya berbagai macam transisi kesehatan berupa transisi demografi, transisi epidemiologi, transisi gizi dan transisi perilaku.

a.  Transisi demografi, misalnya mendorong peningkatan usia harapan hidup yang meningkatkan proporsi kelompok usia lanjut sementara masalah bayi dan BALITA tetap menggantung.

b.  Transisi epidemiologi, menyebabkan beban ganda atas penyakit menular yang belum pupus ditambah dengan penyakit tidak menular yang meningkat dengan drastis.

c.  Transisi gizi, ditandai dengan gizi kurang dibarengi dengan gizi lebih.

d.  Transisi perilaku, membawa masyarakat beralih dari perilaku tradisional menjadi modern yang cenderung membawa resiko.

 

Menurut Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan, (Tjandra Yoga Aditama). Meski dalam Ilmu Kesehatan Masyarakat lebih sering dikenal istilah "double burden", namun  Indonesia mengalami beban yang lebih besar yaitu  "triple burden".

 

Hal Ini terjadi karena berubahnya tingkat kesejahteraan di Indonesia, belum disertai dengan berubahnya perilaku kesehatan masyarakat. Triple Burden yang dimaksud adalah sebagai berikut :

 

  • Beban 1 (First burden) :                       

Masih tingginya penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan, seperti malaria, TB, diare, ISPA. Kondisi ini berbeda dengan negara yang sudah amat maju di mana penyakit menular sudah banyak berkurang

  • Beban 2 ( Second burden) :      

Sementara penyakit tidak menular (PTM) makin meningkat di Indonesia. Bahkan penyebab kematian yang semula didominasi oleh penyakit menular bergeser ke penyakit tidak menular.

  • Beban 3 (Third burden):           

Selain itu, Indonesia juga mengalami penyakit "baru" yang dikenal sebagai "New Emerging and Remerging Diseases", seperti H5N1, H1N1 baru.

 

Data menunjukkan bahwa kematian yang disebabkan oleh penyakit  menular menurun dari 44,2% ditahun 1995 menjadi 28,15 ditahun 2007 dan menjadi nomor 2 penyebab kematian, sedangkan kematian yang disebabkan oleh penyakit tidak menular (PTM) meningkat dari 41,7% di tahun 1995  menjadi 59,5% di tahun 2007 dan ini menjadikan penyebab pertama kematian.

 

Hasil Riskesdas tahun 2007, menunjukkan tingginya prevalensi PTM di Indonesia, seperti hipertensi (31,7 %), penyakit jantung (7,2%), stroke (0,83%), diabetes melitus (1,1%) dan diabetes melitus di perkotaan (5,7%), asma (3,5%), penyakit sendi (30,3%), kanker/tumor (0,43%), dan cedera lalu lintas darat (25,9%). Stroke merupakan penyebab utama kematian pada semua umur, jumlahnya mencapai 15,4%, hipertensi 6,8%, cedera 6,5%, diabetes melitus 5,7%, kanker 5,7%, penyakit saluran nafas bawah kronik (5,1%), penyakit jantung iskemik 5,1%, dan penyakit jantung lainnya 4,6%.

 

Berdasarkan hasil wawancara, Riskesdas tahun 2013, menunjukan adanya peningkatan prevalensi Penyakit Tidak Menular (DM, Hipertensi, Obesitas) dan faktor risiko (asupan garam, merokok) bila dibandingkan dengan Riskesdas 2007, sebagai berikut

 

TABEL 1     PERBANDINGAN BEBERAPA PTM DAN FAKTOR RISIKO PADA RISKESDAS 2007 DAN RISKESDAS 2013

PTM & Faktor risiko

 

Riskesdas 2007

Riskesdas 2013

Kenaikan

DM

1.1 %

2.1 %

1 %

HIPERTENSI

7.6 %

9.5 %

1.9 %

OBESITAS

7.8 %

19.7 %

11.9 %

KONSUMSI TINGGI GARAM

24.5%

26.2 %

1.7 %

MEROKOK

34.2%

36.3  %

2.1 %

 

            Faktor-faktor risiko yang tersebut diatas adalah yang paling utama penyebab Penyakit Tidak Menular katastropik (Stroke, Penyakit Jantung, Gagal Ginjal dll)              

                       

     Dari laporan penyelenggara asuransi sosial, PT ASKES, telah terjadi peningkatan biaya pengobatan penyakit tidak menular sebesar 486 %        dari tahun 2004 – 2012. Pembiayaan ini terutama untuk penanganan penyakit katastropik (data laporan tahunan PT ASKES, 2012).

 

Dari beberapa di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa ada beberapa masalah besar  kesehatan komunitas di Indonesia:

 

  1. 1.    MASALAH PENYAKIT TIDAK MENULAR DAN FAKTOR RISIKONYA
    1. Seberapa besar masalah penyakit tidak menular di masyarakat (PREVALENSI)?
    2. Faktor risiko apa saja yang berpengaruh dan faktor apa yang bisa dimodifikasi (INTERVENSI)?
    3. Bagaimana mengatasi masalah-masalah tersebut jangka panjang (COHORT)?
    4. Apakah ada perubahan genetik yang dipengaruhi lingkungan dan pola hidup (EPIDEMIOLOGI MOLEKULAR)?

 

  1. 2.    MASALAH KESADARAN MASYARAKAT AKAN KESEHATAN PERORANGAN DAN LINGKUNGAN.
    1. Pengaruh lingkungan terhadap pola hidup sehat. Apakah ada perbedaan antara dari pedesaan (rural) dan daerah perkotaan (urban)?
    2. Perilaku masyarakat merupakan faktor penyebab utama, terjadinya permasalahan kesehatan, oleh sebab itu masyarakat sendirilah yang dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan mengetahui permasalahan kesehatan dan cara melakukan prevensi (PERMENKES  nomor 65 tahun 2013)
    3. Meningkatnya upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) sehingga masyarakat mampu mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi secara mandiri dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan lingkungan yang kondusif melalui pembinaan pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan yang terintegrasi dan bersinergi oleh pemangku kepentingan terkait.  (PERMENKES  nomor 65 tahun 2013)

 

 

  1. 3.    BELUM ADA STRATEGI NASIONAL PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR

Berdasarkan data-data telah terjadi peningkatan PTM di komunitas yang diikuti oleh lonjakan pembiayaannya, maka :

 

  • Perlu data penelitian prevalensi penyakit di masyarakat yang lebih akurat
  • Perlu dilakukan penelitian kesehatan komunitas jangka panjang (cohort)
  • Perlu menyertakan masyarakat / perguruan tinggi dalam penelitian dan perencanaan dan pengendalian penyakit (Participatory Assessment and Planning)
  • Perlu menggerakan masyarakat untuk mengetahui permasalahan kesehatannya dan membangun kesehatan masyarakatnya (Community Driven Development)
  • Perlu dibuat suatu National Prevention Strategy dengan melibatkan berbagai potensi masyarakat.
  • Motto Universal Coverage di Amerika: “ The first dollar used in Universal Coverage System has to be for clinical preventive services ( Sarah Collins)”

 

Perubahan pola penyakit di atas sangat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan, transisi demografi, sosial ekonomi dan sosial budaya. Mengingat tingginya angka kejadian dan kematian akibat Penyakit Tidak Menular, maka golongan penyakit ini harus menjadi salah satu sasaran dalam pembangunan bidang kesehatan di Indonesia yang perlu diberi perhatian khusus. Di Indonesia, pengendalian faktor risiko harus merupakan prioritas yang dilakukan untuk menekan peningkatan penyakit tidak menular. Faktor risiko penyakit tidak menular meliputi pola makan tidak sehat seperti pola makan rendah serat dan tinggi lemak serta konsumsi garam dan gula berlebih, kurang aktifitas fisik (olah raga) dan konsumsi rokok. Hendaknya masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan dan pencegahan dalam menghadapi masalah kesehatan berkaitan dengan Triple burden ini. Hal ini akan lebih efektif bila deteksi dini dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi penyakit. Hal penting lainnya adalah meningkatkan kepedulian masyarakat untuk mencegah dan mengendalikan penyakit tidak menular.

Sekretariat PUSDI Kesehatan dan Kebugaran Komunitas

Alamat Sekretariat Pusat Studi Kesehatan dan Kebugaran Komunitas

Fakultas Kedokteran UNPAD

Gd. RS. Pendidikan RSHS/FKUP Lantai 5 Wing Timur

Jl. Prof. Eyckman No 38 Bandung

e-mail: communitystudiesfkunpad@gmail.com

 

CONTACT PERSON :

  1. Yulia Sofiatin, dr., Sp.PD                                                +62 812 2325 607/ysofiatin@gmail.com
  2. Devivi Hafidah                                                               +62878 0573 3370/vihafidah@gmail.com

Team / Staff Kesehatan dan Kebugaran Komunitas

  • Yulia Sofiatin, dr., Sp.PD
    Sekretaris
  • Prof. Dr. Rully M. A. Roesli, dr., SpPD-KGH
    Ketua